Rintik Kilauan Pelangi

Diam menggenggam sebuah buku kusam, ku raih untuk sementara berniat untuk membacanya. Namun lagi-lagi niat itu urung, entah seperti ada sesuatu yang sulit untuk kulihat didalam buku itu. Sedikit demi sedikit hanya ku singkap buku yang sudah memudar warna kecoklatan itu, udara bergemuruh saat aku hendak memantapkan niat membuka buku yang ku ambil dari sebuah lemari jiwa. 
Tanpa fikir panjang, niatku bulat, niat untuk membaca dan menelusuri isi cerita didalam buku itu, cerita yang mungkin akan berakhir bahagia atau sendu, aku harus siap dengan segala kondisi. 
Langsung kucari sebuah pohon rindang disamping rumah, dahannya melambai seperti seekor burung yang terbang ke utara dimusim semi, sangat rindang. Seakan ketakutan tadi hilang karena bayangan tubuhku sudah mulai tertutupi dahan dari sinar mentari. Bersandar dalam sebuah gempita siang dengan suara binatang sawah bersuara seperti alunan biola, ia tak mau pergi, seperti tahu tugasnya siang itu untuk menemaniku. Perlahan ku raih buku usang tadi, lalu ku buka halaman pertama, berlanjut kehalaman kedua, ketiga dan terus hingga tak terasa kini aku sudah sampai dipertengahan buku.
Aku terdiam, terperosok kedalam sebuah kenyataan yang tak henti-hentinya, sebuah asa timbul seiring alunan musik piano tiba-tiba berbunyi dari telepon selular yang menjelma seperti soundtrek film sendu. Buku itu.. Buku itu.. Buku itu.. dan untuk ketiga kalinya aku mengulang menyebutkannya. Buku itu adalah kisah perjalananku, perjalanan hidup yang penuh tinta, bukan hanya hitam berwarna, putih, merah, hijau, biru, pelangi bahkan terkadang dalam sebuah lembar tinta-tinta itu berceceran entah kemana, ada juga satu halaman dimana tinta itu hanya terlihat secara kasat mata. 
Kenapa tidak aku robek saja buku itu?! aku buang sejauh-jauhnya… agar aku tidak lagi melihat cerita masa lalu yang pernah aku alami, kenapa aku lupa semua kisah indah yang pernah terjadi? kenapa tidak aku hancurkan saja pelangi yang siang itu muncul karena hujan rintik? kenapa aku masih mempertahankan semua rasa yang tubuhku ini sadar untuk menolaknya. Tiba-tiba tubuh ini terguncang, hujan rintik tampak memberikan jutaan butir yang lebih banyak, sang pohon rindang pun berubah menjadi payung alam yang menaungiku dari guyuran tangisan langit.
Sampai kapaaaan! Sampai kapan terus aku tertegun dalam sebuah kisah berbalut awan kelabu, sampai kapan semua tinta itu terus bercampur tanpa ada warna indah menghiasi buku itu. Amarahku semakin memuncak, menyadari bahwa semua cerita dalam buku itu telah sia-sia kini, tidak ada yang berbekas dan abadi, semua menyelimut dalam dekapan angin yang entah ingin pergi kemana, bebas lepas dan tak pernah kembali. Sementara aku biarkan buku itu terjauh diantara bebatuan yang terkikis hujan, lembarannya basah, tintanya memudar, warnanya mendung, sudah tidak lagi kokoh sebagai sebuah buku.
Sejenak aku rasa, amarah itu tidak perlu, siapa yang akan mendengar amarah ini walaupun aku mencoba membelah cahaya mentari, saat itu aku hanya sendiri, bercerita sendiri, merenung sendiri, mungkin hanya rintik air yang terus bergelimang seiring perasaanku yang terus tercurah. Tertunduk diatas tanah bumi, mataku terus menatapi semua cerita dalam buku, semua terus bergerak seperti sebuah fatamorgana yang terus hadir dalam fikiran, kembali kemasa-masa dulu, ceritanya mundur, manju bahkan terhenti. Dalam buku itu tidak ada titik, yang ada sebuah koma, yang terus mengalir seperti sebuah air yang tak henti-hentinya mengalir ke hilir sungai.
Kembali kuraih buku itu, buku yang sudah basah meresap semua khalsafah hujan yang mendera, tak perlu lagi aku untuk meresapinya.. semua sudah memudar. Namun aku terperangah, tinta itu tiba-tiba memudar… satu demi satuu.. memudar seperti rintik yang digantikan pelangi. Memudar dan hilang, timbul cahaya indah tersingkap dari balik cerita buku itu. Haruskah kusadari bahwa hujan yang menghapus semua tinta? hujan yang menghapus semua nestapa, hujan yang menyingkap semua debu dijalan tadi siang, hujan yang menerobos relung jiwa manusia, hujan yang menggantikan derita menjadi sebuah cahaya kebahagiaan. 
Kini aku yakini, hujan.. kenapa Ibu selalu berkata bahwa hujan membawa keberkahan, karena ia membawa tetesan dari langit surga untuk diturunkan kedunia, dan Tuhan memang mengirimkan tetesan air surga itu langsung dari sungai-sungai yang hulunya dari rumah Tuhan disana. Ia tahu, banyak hambanya didunia yang butuh hujan, butuh untuk menghapuskan nestapa dalam hidupnya, butuh sebuah air untuk menghentikan dahaga didunia, untuk membinarkan cahaya ketika seluruh awan tertutup kelam.
Hujan, aku kan selalu rindu kepadamu, ku yakini bahwa kau adalah penyejuk jiwaku kini, jika Tuhan menciptakan pelangi untuk mengindahkan langit, maka tuhan menciptakan kamu untuk aku, dan jika Tuhan menciptakan air mata disetiap kesedihanku, aku harap Tuhan menciptakanmu untuk memberi arti senyum indah dihidupku.
Karya :

Ikhsan Ramadhan

Ikhsan Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered By WordPress. A Magnetic theme by Devfloat