Get your future with Passion!

Masa muda, masa yang berapi-api, begitulah sebait lagu yang dipopulerkan oleh Bang Haji Rhoma Irama, mungkin bait lagu itulah yang mewakili masa muda saya saat ini. Masa muda yang berapi-api, yang selalu ingin melakukan sesuatu hal positif untuk masyarakat sekitar. Apalagi, jika yang saya lakukan bisa menghasilkan materi, ini merupakan hal yang menarik dan pengalaman yang sangat berharga dalam hidup saya.
Pengalaman itu dimulai ketika saya duduk dikelas 1 SMA, saat itu saya bersama teman-teman memberanikan diri untuk mengajukan sebuah proposal ke sebuah koran terbesar di Bogor untuk membuat sebuah Rubrik khusus pelajar dikoran tersebut, kami ber-enam memiliki ide untuk mengembangkan informasi tentang pelajar yang ada dikota bogor dan dikemas secara menarik.
Akhirnya dengan penuh perjuangan untuk meyakinkan pihak koran dan melewati presentasi yang panjang kami berhasil mendapatkan izin untuk menerbitkan edisi pertama satu halaman rubrik pelajar di koran tersebut. Pada awalnya, tulisan-tulisan kami masih belum banyak dibaca orang, terutama para pelajar di Kota Bogor, namun seiring waktu sekitar enam bulan berikutnya, kami banyak mendatangi sekolah-sekolah untuk Road Show dan memberikan mereka kesempatan untuk menulis di rubrik kami.
Bulan ketujuh iklan pun berdatangan, beberapa spot penting di halaman sudah diisi oleh pemasang iklan yang berani membayar iklannya sebagai pelajar untuk pangsa pasarnya. Dan penghasilan dari iklan itulah merupakan Rupiah pertama saya semasa saya hidup. Saya ingat sekali besarnya Rp. 300.000,- sebuah nominal yang besar untuk seorang pelajar SMA seperti saya saat itu. Dan rupiah pertama saya saat itu saya berikan kepada orang tua saya terutama Ibu sebagai tanda bahwa saya berniat untuk hidup mandiri start from now.

Benar adanya, saat itu saya benar-benar belajar mandiri, uang yang saya dapat dari gaji menulis menjadi uang jajan siap harinya semasa SMA, ditambah beberapa bisnis event organizer yang sering kami buat semasa remaja. Sungguh pengalaman yang luar biasa memang, bisa mandiri diusia remaja dengan keringat sendiri, bahkan untuk sekedar jalan-jalan dengan pacar pun saat itu harus menggunakan uang sendiri, supaya lebih kerasa pacarannya hehe.

Tanpa terasa hal itulah yang membuat mental saya terbentuk, terbentuk untuk berdikari atau berdiri dikaki sendiri tanpa harus bergantung kepada siapapun selain Tuhan. Dengan berdikari, semua kreatifitas akan muncul ke permukaan tanpa ada batasan waktu, jabatan, kasta, harta, usia bahkan sosial. Karena mental tersebut sudah terbentuk menjadi sebuah karakter, muncullah tujuan dan cita-cita yang visioner, bahwa saya harus menjadi seorang Pengusaha. Bagaimana pun caranya, kenapa demikian? karena saya bukan berasal dari keluarga yang punya modal banyak, bukan dari keluarga yang pernah usaha, semua keluarga saya pekerja bahkan ayah saya seorang Polisi.

Hal yang berat ketika harus meyakinkan keluarga akan cita-cita saya, apalagi keluarga besar yang menginginkan saya menjadi seorang pekerja, padahal niat saya sudah kencang im become entrepreneur. Keseriusan itu saya buktikan dengan kuliah di perguruan tinggi swasta terbaik yaitu STT Telkom, mengambil jalur D3 Information System dengan harapan saya bisa menyalurkan hobi saya dalam menulis. Lalu apa keterkaitannya? kaitannya erat dengan hobi dan pekerjaan saya sebagai wartawan yang sudah mulai beralih media ke media online, saya berfikir untuk bisa menjadi pembuat bukan hanya pemakai.
Dengan saya masuk universitas yang berbasis teknologi, saya bercita-cita untuk mengembangkan tulis menulis ke media teknologi terbaru, dari situlah saya menyukai kuliah saya, karena selain bisa menulis berita saya juga bisa membuat media berita tersebut, dan tak kalah pentingnya semua yang saya tulis, buat harus bisa menghasilkan materi dan manfaat, disitulah Passion Saya.
Sebelum lulus pun saya mendirikan perusahan dengan bendera CV yang bergerak dibidang Software House, kami melayani beberapa permintaan pembuatan media online dan offline untuk kebutuhan perusahaan, organisasi dan pribadi.
Tak berhenti disitu saja, setelah lulus dari STT Telkom saya kembali melanjutkan kuliah di ITB dan jurusan yang saya ambil adalah D4 Teknik Media Digital, jurusan yang lebih waw tentang media digital yang berkembang saat ini. Namun yang saya sangat takjub ketika ternyata di ITB seluruh mahasiswanya ditekankan untuk menjadi Young Technopreneur, luar biasa, ini cita-cita saya! Menjadi seorang Entrepreneur muda dibidang teknologi. 
Yang luar biasa itu ketika saya mendapatkan materi Out Bond yaitu Entreprenur, semua peserta diperintahkan oleh instruktur untuk menjual sebuah Pulpen dengan harga semahal mahalnya dan dengan modal semurah-murahnya, bahkan tanpa modal. Kami pun tidak percaya bahwa ini akan berhasil, bayangkan sebatang pulpen yang tidak ada mereknya itu akan dijual diatas harga jutaan, jual 10 ribu pun pasti tidak akan laku. Namun apa yang terjadi? semua anggapan itu dipatahkan oleh kejadian dilapangan, setelah kami diberikan materi, trik dan pelatihan, akhirnya saya berhasil menjual satu buah pulpen dengan harga 1 juta. Wow saya sungguh takjub melihat kenyataan ini, kenyataan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Pelajarannya bahwa segala hal yang kita jual, semurah apapun itu semahal apapun kalau kita tidak menjualnya, mempublikasikannya, berkomunikasi dan menjelaskannya secara benar disertai dengan trik-trik tertentu maka akan useless, namun jika kita maksimal dalam memasarkannya, semahal apapun itu, semurah apapun itu tanpa melihat keterbatasan konsumen, pasti akan laku dipasaran dengan harga yang bervariasi. Sungguh semangat berwirausaha saya bangkit, bangkit sebangkit bangkitnya, tak perduli apapun yang terjadi didepan, saya harus kejar impian saya! Sekarang!.
Mengutip pidato Ridwan Kamil pada acara TEDx Jakarta bahwa pekerjaan yang menyenangkan didunia ini adalah bekerja untuk hobi atau passion kita.

Ikhsan Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered By WordPress. A Magnetic theme by Devfloat