Time is Running Out

Waktunya Habis! teriak seorang dosen killer yang saat itu menjadi pengawas ujian bahasa pemrograman Java yang super amat sulit, semua rata-rata mahasiswa Telkom belum ada yang berani mengumpulkan jawaban, mungkin hanya saya yang mengumpulkannya di 30 menit pertama dari 120 menit yang disediakan. Mungkin orang-orang berfikir saya pintar atau jenius, dari 40 soal yang diberikan bisa diselesaikan dalam waktu 30 menit. Yang saya lakukan adalah mengerjakan beberapa soal yang saya anggap bisa dan yakin, dari 40 soal mungkin hanya 20 yang bisa saya kerjakan pasti, sisanya tidak saya kerjakan.

Kenapa? saya harus cepat keluar dari ujian itu, nilai bagus tidak penting untuk saya, yang penting adalah saya mengerti pemrograman java dan bisa mencapai nilai minimal sudah bersyukur. Yang saya kejar adalah PASSION saya, dan proses lebih penting dari pada nilai akhir. Waktu saya akan habis, saya bergegas mengumpulkan kertas ujian ke meja dosen, mengambil tas dan pamit. 10 menit lagi saya harus bertemu dengan client yang akan menggunakan jasa saya untuk membuat sebuah software diperusahaannya. Passion menulis saya berkembang setelah kuliah di jurusan Informatika, bukan lagi hanya menulis berita, cerita atau reportase tapi sekarang passion saya berkembang kepada menulis sebuah program software, sama-sama menulis.

Beberapa menit lagi waktu akan habis, dan kemacetan kota bandung mulai menyebar di jam pulang kantor seperti ini. Tapi akhirnya saya datang lebih cepat dari clientnya, sehingga dia tidak menunggu. Saya menyadari prioritas waktu itu harus ada, bukan prioritas untuk meninggalkan salah satu dari dua pekerjaan, tapi mengurangi porsi dari salah satu pekerjaan. Seperti saya, saya lebih rela mengurangi porsi ujian saya dan memberikan sisa porsinya untuk bertemu client, padahal bagi seorang mahasiswa ujian adalah penting, tapi bagi saya yang penting adalah proses belajar bukan nilai akhir.

Entah kenapa saya lebih senang melakukan hal untuk kepentingan orang lain atau banyak orang, seperti bertemu client, apalagi sesuai dengan passion saya. Dan yang berhubungan dengan pribadi saya sendiri, lebih baik saya kurangi porsinya tapi tetap tidak berada dibawah standar. Saya lebih bangga dan bermanfaat ketika bisa bikin game dari bahasa pemrograman java dari pada saya harus dapat A tapi saya tidak bisa bikin game dan tidak bisa berbagi ilmu dengan cara mengajar.

Sekali lagi, waktu itu setiap orang sama, yaitu 24 jam satu harinya. Lalu? apakah kalian dalam 24 jam hanya bisa melakukan beberapa kegiatan? dan belum tentu bermanfaat? jadi bagaimana dalam waktu 24 jam kita bisa melakukan hal-hal bermanfaat, banyak dan berkualitas. Dan waktu itu berharga, jujur kepada waktu itu pun penting, kalau kita selalu telat datang janji, telat rapat, kumpul tidak efektif, banyak main game dan hal lainnya yang kurang bermanfaat sebaiknya ditinggalkan, karena waktu kamu bagai pasir guys, ga akan bisa kembali lagi keatas dia akan terus mengalir sampai waktunya habis.

Ikhsan Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered By WordPress. A Magnetic theme by Devfloat