3 Tipe Masyarakat Menyikapi BBM, Anda?

Jakarta – Kenaikan harga BBM yang belakangan menjadi isu nasional sangat kental dengan muatan politik praktis, hal ini terindikasi karena terdapat pasal-pasal yang akan digunakan untuk menyelamatkan kepentingan partai koalisi. seperti yang banyak dibicarakan mengenai pasal LAPINDO yang dianggarkan 155 M pada APBN-P 2013, bahkan pasal ini tidak diketahui oleh Ketua DPR RI.
“”Saya juga enggak tahu (isi pasal anggaran lumpur Lapindo). Tapi itu tugas teman-teman (anggota DPR), itu kan dibahas teman-teman saat Raker (rapat kerja) di Banggar (Badan Anggaran DPR). Kita (pimpinan DPR) tidak mungkin sampai situ,” kata politikus asal Partai Demokrat ini, Rabu (19/6) kepada wartawan ketika dikonfirmasi.
Ironis memang, DPR yang merupakan penentu kebijakan tidak mengetahui pasal-pasal yang akan disahkannya. Tidak hanya sampai disitu fakta politik juga berlanjut dan menjurus kepada partai politik yang cari muka atau menginginkan simpati publik bahkan untuk menutupi kasus partainya, sehingga terjadi pengalihan isu walaupun posisinya berada didalam koalisi, musuh dalam selimut. 
Selain itu beberapa pengamat politik menyebutkan bahwa kenaikan BBM ini akibat dari kurang maksimalnya pendapatan PAJAK NEGARA yang kurang dari 50%, sehingga pemerintah membebankan pemasukan negara kepada warganya. Padahal kurang maksimalnya hal tersebut disebabkan departemen perpajakan sendiri yang masih terdapat KKN dan kongkalikong dengan pengusaha, hal ini mengakibatkan wajib pajak pribadi malas membayar pajak, toh uangnya akan dikorupsi juga.
Lucu memang, negara ini sudah hancur dengan sewenang-wenang dikelola oleh politikus-politikus yang kotor seperti ini. Semakin hari semakin tidak terkendali, dari harga BBM hanya Rp. 700 sampai harga 4.500 masih saja negara ini belum berkembang malah menjurus kenegara miskin.
Dari paparan diatas, muncul beberapa tipe masyarakat yang menyikapi kenaikan ini dengan berbagai pandangan. Beberapa pandangan yang coba saya paparkan dibagi kedalam 3 golongan sebagai berikut.
1. Tipe masyarakat yang berfikir kritis berdasarkan fakta-fakta, biasanya dari golongan menengah keatas dan akademisi. Diantara mereka menolak berdasarkan fakta-fakta yang terjadi dilapangan selama ini, ada juga yang menerima karena merasa diuntungkan dengan kenaikan harga bbm. Mereka menolak dengan melakukan manuver-manuver yang efektif dan efisien tanpa harus kejalan dan lebih ke diplomatis atau strategis. Yang menerima, mereka menutupi kesenangannya akibat BBM naik dengan berdalih memberikan bantuan BLSM atau bantuan lainnya adalah pro rakyat.
2. Tipe masyarakat yang terombang ambing dalam isu yang tidak jelas, terkadang mereka terprovokasi oleh media masa, obrolan kantor bahkan sekedar obrolan di warung kopi. Kebanyakan dari mereka adalah masyarakat kaum menengah kebawah yang mudah terprovokasi. Umumnya dari mereka menolak kenaikan BBM, karena berfikir, sebelum BBM naik saja kami sudah sengsara, gaji atau honor, tunjangan, bantuan semua tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup. Ditengah sikap mereka yang menolak pun akhirnya mereka tetap menerima BLSM, karena lumayan katanya.
3. Tipe masyarakat ketiga adalah yang sama sekali tidak terpengaruh akan berita ini. Mereka berfikir lebih baik bekerja atau berusaha lebih giat untuk mendapatkan hasil yang maksimal ketimbang memikirkan kenaikan harga BBM, karena percuma. Mau dibawa kerapat paripurna sekali pun keputusan akan tetap milik penguasa, karena memiliki hak suara tertinggi dalam koalisi partai di DPR.
So, Bagaimana sikap Anda?

Writer :
Ikhsan Ramadhan
source : web , tv

Ikhsan Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered By WordPress. A Magnetic theme by Devfloat