Berdoa Diatas Awan

Ketika semua kesombongan dunia telah ditanggalkan, sejenak mencari daratan, dan tersadar bahwa kini kita sudah berada diatas awan. Ratusan kilometer dari permukaan laut, semakin dekat dengan kerajaan awan, semakin dekat dengan Sang Pencipta, walaupun sejatinya jarak Tuhan dengan hambanya hanya sebatas urat nadi atau sangat dekat.
Namun ada yang berbeda dalam penerbangan kali ini, jaraknya tidak jauh, berangkat dari Bandung menuju Surabaya.  Sekitar 1 jam 10 menit saya akan berada diatas awan. Dalam perjalanan dinas kali ini mungkin bisa dibilang perjalanan yang sangat saya resapi, ketika pesawat take off dari Bandara Husein Sastranegara langsung saya ambil tas kecil yang berisi Majmu Aurot (Buku Dzikir) yang menjadi pegangan saya. 
Diatas awan, surat demi surat Al-Quran dibaca, doa demi doa saya panjatkan, headset saya pasang dalam kondisi mute dipesawat Garuda Indonesia kali ini. Sangat saya rasakan, bagaimana nikmatnya berdoa dari langit tertinggi. Ditengah bacaan saya, ada orang Jepang yang bertanya kepada saya, kebetulan dia datang dari belakang. “I’m Sorry, That is Mosleam Holy Book? it’s good” kaget ketika ternyata ada salah satu penumpang yang memperhatikan.
Sejatinya, perjalanan kali ini sangat memberikan resapan yang luar biasa, bahwa semakin tingginya kita dari pijakan bumi, semakin kecil dan tidak ada apa-apanya kita dihadapan Tuhan. Semakin kita sombong, semakin sebenarnya kita tidak ada apa-apanya dihadapan Tuhan. Sungguh, luar biasa. Semoga doa yang saya penjatkan dari atas awan bisa dikabulkan tanpa ada penghalang lagi. Saya pun meneruskan bacaan dan doa-doa saya hingga pesawat mendarat di Bandara Djuanda Surabaya. 

Writer:
Ikhsan Ramadhan

Ikhsan Ramadhan

One thought on “Berdoa Diatas Awan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered By WordPress. A Magnetic theme by Devfloat