Seminggu di Kota Anging Mamiri

Sebelum saya berbagi pengalaman tentang Kota Makassar, yuk kita dengarkan dulu lagu khas kota celebes ini, yang dibawakan oleh Ten2five.
Setelah melalui perjalanan selama 2 jam dan 10 menit, akhirnya saya tiba di Kota Anging Mamiri. Yap, Makassar. Jauh dari kesan angker yang selama ini diberitakan di televisi tentang sebuah kota diwilayah timur Indonesia yang selalu dihujani demo anarkis, hari ini Kota Makassar diselimuti awan mendung dan diwarnai rintik hujan yang menurut petugas bandara sudah turun sejak tadi subuh. 
Sontak ekspektasi saya tentang kota yang panas suhu, iklim bahkan kondisinya seketika hilang, mungkin mereka menyambut saya, hehe..
Setelah dijemput oleh panitia lokal menggunakan mobil pribadi, saya pun segera bergegas meninggalkan bandara yang ternyata dihubungkan oleh akses cepat Tol Bandara dengan Kota Makassar, jaraknya sekitar 30 menit dari Bandara menuju Kota. Kendaraan yang bisa dinaiki sepertinya hanya taksi, menurut informasi jika menaiki taksi, naiklah taksi Bosowa yang harganya terjangkau, aman dan nyaman, sekitar 150 rb ke jalur Pettarani Kota Makassar.
Oh ya, perjalanan kali ini ke Makassar adalah dalam rangka acara Musyawarah Nasional Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer Indonesia (APTIKOM), kebetulan saya termasuk kedalam anggotanya. Mungkin diantara para peserta yang hadir, saya termasuk anggota termuda, karena kebanyakan dari mereka adalah para pendidik, profesional yang gelarnya sudah berderet terutama di bidang informatika, termasuk guru besar informatika kampus saya dulu di ITB, Prof Iping.
Setiba disana hari selasa lalu, saya akan ada di kota ini hingga hari sabtu nanti. Kegiatannya seminar, pelatihan, workshop dan bla bla bla yang berkaitan dengan keilmuan di dunia Informatika Indonesia. Justeru yang menjadi perhatian saya adalah ketika saya sadar ternyata Indonesia begitu luas, disini, di Makassar di salah satu kota di bagian timur Indonesia saya berpijak dan banyak sekali potensi-potensi yang bisa dikembangkan terutama dibidang informatika. Banyak potensi-potensi berbakat dibidang robotika, software, dekstop bahkan cyber security.

Kami dilangit yang sama, langit Indonesia, kita bisa bangkit bersama di pijakan tanah yang sama. Semangat ini terlihat dari begitu apiknya panitia lokal yang telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, acara kali ini berjalan dengan rapi dan menggunakan fasilitas full information system yang cepat dan tepat. Dari pembagian kamar, pendaftaran, hingga entertainment. Hebat mereka jauh dari ibu kota tapi bisa menyelenggarakan acara sehebat ini, saya yang biasa menyelenggarakan event pun sedikit kaget dengan rapihnya penyelenggarannya.

Oke kita tinggalkan acara yang keren itu, foto-fotonya bisa dilihat di gallery aja. Yang enggak kalah dari Makassar adalah Pantai Losari, Kuliner yang gila enak parah tapi bikin berat badan naek, bagaimana enggak, semua serba daging, cuma beda-beda nama aja. Ada coto makassar, ada sop kondro, ada kondro bakar, ada mie titi, Palu Basa, Sop Sodara, Sop Ubi, semua saya makan. haha. Pastinya akan rindu dengan masakan khas Makassar, karena menurut saya makan seperti ini jarang di temukan di wilayah jawa, kalau pun ada pasti rasanya beda.

Uniknya, bahasa mereka menarik untuk dipahami, logatnya lucu dan humoris, tidak angker seperti yang orang lain bayangkan, pasti dibubuhi kata-kata “Mi, Ji” itu ciri khas sekali. Kebetulan banyak dulu teman kuliah saya di Telkom dan ITB orang makassar, jadi tidak begitu kaget bergaul dengan orang sana.

Sayangnya, Makassar seminggu ini hujan lebat, jadi enggak bisa ke pantai, ke Benteng Rotterdam atau pun tempat outdoor lainnya, berharap nanti bisa kembali lagi ke kota Makassar.

Writer: Ikhsan Ramadhan

Ikhsan Ramadhan

One thought on “Seminggu di Kota Anging Mamiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered By WordPress. A Magnetic theme by Devfloat